Jumat, 19 Agustus 2011

Kisah Sang Demonstran (3)

Kampus Lama Unlam, kini Bank Mandiri
 Hasanuddin HM, Pahlawan Ampera Banjarmasin

PAGI 10 Pebruari 1966, Hasanuddin Haji Madjedi  dengan bersemangat menggenjot sepeda ontelnya bersama kakak perempuannya, menuju Kampus Unlam (kini Bank Mandiri) di Jalan Lambung Mangkurat. Sesampainya di sana, sudah ribuan mahasiswa baru (tingkat persiapan) dan para seniornya berkumpul
 Penanda mereka mahasiswa baru, terlihat dari peci (mirip angkatan laut) yang dikenakan dan logo Unlam di sisi kanan peci, pengganti baju almamater. Barisan mahasiswa yang dikomandani aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), akhirnya membaur bersama sekitar 15 ribu demonstran untuk mengikuti apel siaga di lapangan terbuka (sekarang halaman Sabilal Muhtadin
Dalam apel siaga, pendemo menyampaikan tuntutannya kepada Gubernur Kalsel H.Aberani Sulaiman, Rektor Unlam Milono dan disaksikan Kasdam Kolonel Sutopo Yuwono. Usai menyampaikan aspirasinya, aksi  demonstrasi dilanjutkan ke Kantor Konsulat Republik Rakjat Tjina (RRT) –-sekarang Kantor Ajenrem-- di Jalan Pierre Tendean, Banjarmasin
 Mengapa Konsulat RRT yang menjadi sasaran mahasiswa? “Karena sebelum demonstrasi, mereka diduga menjadi beking tengkulak sembako sehingga harga barang naik tinggi. Selain itu mereka diduga terlibat gerakan komunis karena hampir setiap hari, siaran radio mereka Viking Hsinhua menyiarkan tentang paham komunis,” papar Yusriansyah Azis, mantan demonstran
          
Sesampainya di kantor konsulat, aksi diwarnai kericuhan. Pemicunya upaya mahasiswa menyampaikan aspirasi ditolak petugas konsulat.Kedatanga ribuan massa yang marah disambut petugas keamanan dengan semprotan pemadam. Suasana kian mencekam, setelah terdengar suara rentetan tembakan dan hujan deras mengguyur

 Sejumlah demonstran jatuh pingsan dan sebagian lagi menjadi korban pemukulan. “Akhirnya surat pernyataan sikap, bisa kami sampaikan setelah Abi Karsa kami dorong pantatnya ke atas pagar dan melemparkan surat tuntutan kami,” jelas Yusriansyah Azis, anggota Predisium KAMI Komisariat Unlam 1966
          
Aksi demonstrasi pun bubar. Sebagian mahasiswa masih melanjutkan aksi, sedangkan para pelajar dianjurkan pulang. Saat bubar, arus massa terpecah menjadi dua bagian. Satu kelompok menuju Kampus Unlam di Jalan Lambung Mangkurat dan sebagian lagi melewati Jembatan Dewi menuju Pasar Baru
          Hasanuddin Haji Madjedi, yang turut dalam aksi menjadi aktor penting sebagai pengusung spanduk bertuliskan,”  Tak Ada Pilihan Lain, Menjadi  Bangsa Indonesia atau Bangsa Asing.” Tak puas beraksi di depan Kantor Konsulat RRT, rombongannya melakukan longmarch dari Pecinan (Jl. Pierre Tendean) menuju Pasar Sudimampir dan Pasar Baru
.
          Setibanya di pertigaan pasar, teriakan tuntutan penurunan harga barang dan pembubaran PKI semakin kecang dan garang disuarakan mahasiswa. Tepat di pertigaan depan Toko Roti Minseng, kerumunan ribuan massa kian banyak.
Kehadiran mereka, rupanya dianggap mengganggu stabilitas pasukan BKO dari 
Batalyon K Jawa Tengah yang sedang berjaga-jaga
          Di saat situasi kian tegang, suara tembakan terdengar dari ketinggian bangunan. Dalam waktu bersamaan, Hasanuddin, HM yang mengusung spanduk, tiba-tiba tersungkur bersimbah darah. Teriakan dan pekikan takbir bergema. Sang demonstran berusia 19 tahun ini pun digotong rekan-rekannya ke Klinik Kesehatan Muhammadiyah
          Lubang menganga dari samping, ternyata menembus pinggang belakangnya. Nyawa Hasanuddin, HM tak tertolong lagi dan dipastikan meninggal. Jasad korban akhirnya dibawa lagi ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin
          “Kami mendapat kabar siang hari. Mama sudah terabah dan abah dipapah walikota dan pejabat yang datang ke rumah sakit. Kami kada mengira, kenapa inya sampai meninggalkan kami. Padahal Asan ini paling disayang Mama wan Abah,” aku Siti Rubiah, kakak Hasanuddin, HM
          Perjuangan mahasiswa Unlam tingkat persiapan ini, akhirnya dinobatkan sebagai Pahlawan Amanat Pembelaan Rakyat (AMPERA) dari Banjarmasin. Melengkapi predikat serupa yang disandang Arif Rahman Hakim dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Bahkan jenazahnya disemayamkan  di Taman Makam Pahlawan, berdampingan dengan Pangeran Antasari


(Disarikan dari Hasil Liputan Magazine News Pian Tahulah Duta TV)


         


Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Sang Demonstran (2)


Hasanuddin HM, Pahlawan Ampera Banjarmasin

“Ulun umpat demo, biar harga baras dan gula turunan”

Banjarmasin, Pebruari 1966

          SEHARI sebelum demo digelar, Hasanuddin Bin Haji Madjedi, begitu gembira mendengar senior-seniornya seperti Mas Abi Karsa, Gusti Rusdi Effendi, Yusriansyah Aziz, Djok Mentaya dan lainnya akan bertolak menggelar demonstrasi.
        Di rumahnya di Jalan Batu Piring, nomor 21 Banjarmasin, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam tingkat persiapan ini, meminta izin kepada sang ayah Haji Madjedi, seorang pegawai kantor gubernur.   
        “Bah…hari ini ulun handak umpat demo. Mun sudah demo ni bah…harga baras wan gula turunan,” kata Hasanuddin HM, kutip kakaknya Hj. Siti Rubiah. Entah membuang perangai atau saking semangatnya, sebelum turun dari rumah berkali-kali Asan –biasa dipanggil—bercermin dan membenarkan sisiran rambutnya.
        Selesai urusan bercermin, Asan pun siap berangkat dengan mengenakan baju baru warna krim muda hasil pemberian kakaknya Hj. Siti Rubiah. “Aku ingat banar, waktu itu kain tetoron masih langka di Banjarmasin. Jadi Asan kubuatkan baju hanyar dan dipakainya waktu handak demo,” jelasnya.  
        Setelah merasa mantap, pemuda kelahiran Desember 1945 siap berangkat. Lagi-lagi sang kakak merasa ada firasat kurang baik menjelang keberangkatannya. Ketika ingin menaiki sepeda ontelnya, tiba-tiba per (pegas) dudukan sadel sepedanya patah.
        “Asan bebulik ke dalam rumah, bepada wan Abah mun per dudukan sepedanya patah. Tapi abah menyahuti, kira-kira sudah jabuk  jua kalo nak. Kena ai diganti,” kisah Siti Rubiah.  
        Putra pasangan H. Madjedi dan Hj. Sahrul Bariah ini, akhirnya berangkat juga menuju Kampus Unlam di Jalan Lambung Mangkurat (sekarang Kantor Bank Mandiri) bersama kakaknya yang lain. Sebelum bergabung bersama ribuan mahasiswa lainnya untuk menggelar aksi demonstrasi. (*)

(Disarikan dari Liputan Program Dokumenter Pian Tahulah di Duta TV Banjarmasin)

Kisah Sang Demonstran (1)

Hasanuddin HM, Pahlawan Ampera Banjarmasin

Tak Ada Pilihan Lain, Menjadi
Bangsa Indonesia atau Bangsa Asing

(Banjarmasin, 10 Pebruari 1966)

          AKSI tiga tuntutan rakyat atau Tritura, memang sebulan lebih lambat terjadinya dari Jakarta. Namun cerita heroisme kaum muda terutama mahasiswa dan pelajar, juga terjadi di Banjarmasin pada Pebruari tahun 1966. Dan inilah demonstrasi terbesar  Banua yang terjadi pada masa rezim orde lama Presiden Soekarno.
        Secara umum ada 3 tuntutan yang diperjuangkan. Pertama; turunkan harga barang. Kedua; Bubarkan PKI. Dan ketiga;  bersihkan kabinet dari antek-antek komunis. Secara khusus di Banjarmasin, justru ada 2 tuntutan tambahan yakni stabilkan harga dan adili para tengkulak (cukong sembako).
        Mengapa? “Karena saat itu perekonomian di Banjarmasin sangat menyedihkan. Di mana-mana orang antre beli beras, gula dan minyak tanah. Harga sembako pagi sekian, sorenya bisa naik 300 persen. Bahkan tingkat inflasi sangat tinggi mencapai 600 persen, “ papar Yusriansyah Aziz, eskponen 66 --sekarang ekonom Unlam.
        Lumpuhnya sektor perekonomian, merembet ke situasi politik yang disusupi Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banjarmasin.  Sejumlah pentolan aktivis 66, melihat indikasi ini terekam dari Siaran Radio Swasta Viking Hsinhua di Pecinan (sekarang Jl.Pierre Tendean-seberang Siring Sabilal).
        “Hampir setiap hari, radio ini menyuarakan cerita propaganda dengan paham komunis. Di malam hari, mereka kerap menggelar pertunjukkan teater dan nyanyian-nyanyian untuk menghimpun massa,” kata Yusriansyah Aziz, dosen ekonomi Unlam.
        Kebijakan pemerintah yang mendua dengan melegalitaskan, status kewarnegaraan Indonesia dan Cina kala itu, juga mengumbar kecemburuan warga sipil. Kecurigaan aktivis angkatan 66 Banjarmasin pun memuncak terhadap eksistensi Gerakan 30 S/PKI di Banua, setelah Ketua Partai Komunis wilayah Kalsel, Aman Hanafiah mendesak Panglima Amir Mahmud, agar masuk Dewan Revolusi, bentukan Kolonel Untung.
        Di internal Kampus Unlam, keberadaan organisasi mahasiswa juga “diadu-asah.” Dari isu aktivis KAMI yang dituding anti revolusi, hingga penolakan mahasiswa terhadap Gerakan Komunis yang tidak disambut baik pemerintah. Akumulasi rentetan peristiwa ini, membuat mahasiswa dan pelajar tak ada pilihan selain turun ke jalan.
        10 Pebruari 1966, seluruh kekuatan rakyat di Banjarmasin berkumpul di lapangan kantor gubernur –sekarang kawasan Sabilal Muhtadin. “Jumlahnya ada sekitar 15 ribuan orang saat itu. Mereka berasal dari sekitar 16 organisasi mahasiswa, pelajar dan kemasyarakatan, kecuali GMNI yang tidak ikut,” kata Yusriansyah Aziz, salah satu aktor demonstran. (*)

(Disarikan dari Liputan Program Dokumenter Pian Tahulah di Duta TV Banjarmasin)

Kamis, 11 Agustus 2011

Jualan Trenggiling

Diburu, dikuliti dan diselundupkan. Perilaku orang kita terhadap hewan pemakan semut atau ant eater dan rayap ini, ternyata sudah berlebihan. Jika dulu hewan ini dipercaya sebagai binatang setan dan hantu karena kerap menghilang meski sudah dikarungkan.  Kini justru diburu dan diperdagangkan, bukan saja di Kalsel tapi hingga Pulau Jawa  bahkan China.

Di Banjarmasin sendiri, aksi brutal pengepul hewan ini terungkap setelah Polres Banjarmasin Selatan dengan Polsus Dinas Kehutanan bekerjasama melakukan penggerebekan. Saat rumah digerebek di kawasan Pekauman, petugas hanya disambut seorang ibu dan balitanya.

Dari ruang dapur dan serambi, 5 unit dispenser pendingin berukuran besar ternyata dipenuhi trenggiling beku. Semuanya sudah dikuliti. Hewan-hewan ini diduga diselundupkan pemburu-pemburu liar dari kawasan hutan Kotabaru dan sebagian dari Hulu Sungai dan Hulu Barito Kalteng.

Penimbunan trenggiling ini mencapai  berat 1,5 ton dengan jumlah mencapai 340 ekor. Konon daging-daging hewan ini di ekspor ke China sebagai bahan obat paru-paru dan jantung. Sedangkan sisiknya dijadikan bahan kosmetik. Untuk seekor Trenggiling atau dagingnya dihargai sebesar 200 ribu rupiah. Harganya semakin mahal mencapai 400 ribu rupiah jika dalam keadaan hidup. Sedangkan sisiknya mencapai 350 ribu rupiah per kilogram.

Sebenarnya hewan ini dilarang diburu apalagi diperdagangkan. Sesuai Undang-undang RI Nomor 5/1990, Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 17/1999, bagi pelakunya diancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Trenggiling sendiri ditemukan seseorang bernama Desmarest pada  tahun 1822 dan merupakan wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia Tenggara.  Tubuhnya lebih besar dari kucing. Berkaki pendek, berekor panjang dan berat. Hewan ini unik karena sisiknya yang tersusun layaknya genting rumah.  Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang. Binatang berambut sedikit itu tidak mempunyai gigi. 

Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling menggunakan lidah yang terjulur dan bersaput lendir.  Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan. 

Siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi ditinggali.
Guna melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari.

Musuh trenggiling adalah anjing dan harimau.  Binatang unik itu berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak yang dilahirkan seekor trenggiling betina. Lama buntingnya hanya dua sampai tiga bulan saja. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya.

Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.  Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon. Binatang tersebut memakan semut, telur semut, dan rayap.

Untuk menggantikan fungsi gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya. Meski begitu lambungnya tidak rusak karena  karena lambung trenggiling telah dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup tebal.  Epitel yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap jenis makanan keras. Gesekan mekanik antara rangka semut atau rayap yang dimakan dapat diminimalisir dengan adanya keratin tersebut. (***)

(Disarikan dari Liputan Penggerebekan Pengepul Trenggiling di Kelayan)

Rabu, 10 Agustus 2011

Manyundak Anak Dayak

SUKU Dayak merupakan salah satu bagian historis munculnya peradaban kehidupan di Kalimantan Selatan.  Menetap di kawasan perbukitan, ada belasan suku yang hidup rukun hingga sekarang. Salah satu yang terkenal adalah Dayak Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau enam jam perjalanan dari Kota Banjarmasin.
Keteguhan sekitar 240 warganya yang masih memegang tradisi budaya dengan menjadikan hutan, air dan udara sebagai bagian kehidupan yang harus dijaga, setidaknya menjadi inspirasi bagi kita. Bermukim di perbukitan Meratus, suku ini terkenal sangat arif dalam bersikap terhadap alam sekitarnya. 
Hutan menghijau, air yang jernih hingga populasi flora dan fauna tumbuh dengan baik di sini. Sejak kecil anak-anak Dayak sudah diajari bersikap survival di dalam hutan. Berburu menjadi pelajaran utama. Salah 
satunya adalah Manyundak atau berburu ikan di Sungai Amandit.
Peralatannya adalah goggle atau teropong yang terbuat dari sandal jepit yang diitutup kaca dan dilem agar bisa menutupi mata saat menyelam. Senjatanya berupa sundak atau panah yang  dibuat dari besi lancip dengan gagang kayu. Sebagai pelontarnya dipasangi karet untuk membidik sasaran.
Dengan alat rakitan sendiri, anak-anak Dayak disini biasanya menenggelamkan wajahnya untuk membidik ikan yang bersembunyi di balik bebatuan. Jika sasaran terlihat, panah pun diarahkan. Ikan-ikan pun menggelepar ditembus sundak.  Memang tak mudah mencari ikan di arus deras. Selain populasinya sedikit, ukuran ikannya pun kecil-kecil.
Warga setempat menyebut ikan ini Katitipal dan Buin, yang memang sangat digemari warga Desa Pantai Kipas, Loksado. Perburuan diakhiri setelah butah atau tas ransel suku Dayak sudah terisi ikan. Kehidupan di hutan yang terkadang nomaden, membuat anak-anak ini terampil untuk memasak nasi atau mahumbal dan memasak ikan buruan atau manyuman.
Mereka memasak diluar pakem, karena peralatannya bukan menggunakan panci tetapi menggunakan bambu beruas panjang dan berdiameter tipis sebagai  alat memasak. Bambu ini biasa disebut paring buluh. Ikan atau beras yang sudah dibersihkan, dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daunpisang.
Bersama air sungai dan sedikit rempah-rempah, bambu ini pun dimasak/dipanggang di atas api. Prosesi ini tak jauh beda dengan membuat penganan lemang atau lamang. Setelah setengah jam, nasi dan ikan pun masak dan dihidangkan.
Bagi anak-anak Dayak ini, sikap bertahan hidup di hutan sudah sejak kecil diperkenalkan orang tuanya. Tujuannya agar interaksi dan kearifan mereka terhadap hutan dan lingkungannya tetap terjaga.  Jika mereka bisa bagaimana dengan Anda??? (*)

Disarikan dari hasil liputan program Reportase Minggu di  Transtv=)

Selasa, 09 Agustus 2011

Gua Marmer Bajuin



CUKUP lama aku tidak mengunjungi sisi utara perbukitan Meratus ini. Namanya Bajuin, letaknya berdampingan dengan Desa Sungai Bakar, sebuah perkampungan yang dihuni sekitar 120 jiwa. Menuju kesana hanya dibutuhkan waktu 40 menit dari Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.
Dulunya kawasan ini menjadi tempat favorit warga Kalimantan Selatan untuk berwisata menikmati pesona alam yang eksotis. Setidaknya ada dua tujuan sebagai tempat favorit. Pertama di sisi kiri bukitnya ada air terjun Bajuin dan kedua di sisi kanannya ada gua marmer.
Di awal Oktober 2008 lalu, aku berkesempatan lagi ke sana. Dahsyat sekali perubahannya. Air terjun yang menerabas belukar turun dari atas perbukitan tidak lagi mengucur deras. Pun tak beda jauh, anak Sungai Bajuin yang biasanya jernih, justru mulai pekat kecoklatan warnanya.
Populasi pohon Belangiran dan Meranti yang rapat menutupi dinding bukitnya, kini sudah meranggas berganti semak dan tumbuhan merambat. Sebagian bukitnya justru sudah koyak, bak kepala yang sudah pitak. Sehingga tidak mampu lagi menampung debit air, membuat arusnya tidak lagi terjun tetapi hanya menetes.  
Usai merendam kaki di anak sungainya, kami beranjak menuju sisi kanan bukit yang kami datangi bersama kawan-kawan jurnalis. Kali ini Gua Marmer yang jadi tujuan. Baru sepenggal perjalanan menuju lokasi yang penuh lubang dan bebatuan, kami sudah disambut portal dengan pos penjagaan.
Mobil distop dan seorang petugas berbaju biru datang memeriksa dan menginterogasi. Berlebihan memang. Semestinya kami ditarik retribusi karcis selayaknya masuk lokasi wisata. Di sini, kami justru ditanyakan nama dan alamat serta tujuan ke gua marmer lengkap dengan mengisi buku tamu segala.
Di ujung pos dua orang penjaga, justru berbaju doreng tentara. Salah satunya berdiri tegap dengan senjata AK-47 diselempangkan. Seorang teman berujar, “Ini tempat wisata atau menuju kamp tentara?” Setelah bagian dalam mobil turut diperiksa, kami pun lolos di pos ini setelah menyembunyikan kamera liputan di box ban serep.
Di sepanjang jalan, mobil yang kami jalankan disambut tanah liat kekuningan. Bongkahan batu berjejer di sisi kanan dan kirinya. Lima unit alat berat excavator bekerja mencangkul bukit berbatu dan sebagian menyusunnya.
Sejumlah pekerja memungut bongkahan batu yang berukuran kecil dan memasukkannya ke dalam karung plastik. Batu-batu ini, bukan batu biasa. Tetapi batu yang mengandung biji besi dan mangan yang kini diburu. Pemburunya bukan hanya warga biasa, pengusaha, tetapi juga tentara.
Bahkan dua kilometer dari pos penjagaan terpampang papan nama bertuliskan PUSKOPAD, tak jauh dari gua marmer yang kami datangi. Memang mulut gua marmer tidak (belum) tersentuh aktivitas pertambangan. Bongkahan material marmernya pun masih kokoh berdiri, saat kami datangi dengan berjalan kaki.
Hanya saja di sisi kanannya, aktivitas pertambangan biji besi sudah merusak kawasan ini. Jaraknya hanya 75 meter dari sekumpulan bukit marmer yang mengalirkan air jernih. Entah mengapa, berkali-kali warga setempat mengadu, hanya menjadi sekumpulan polemik tanpa ada aksi untuk menghentikan penambangan. 
Padahal pemilik izin kuasa pertambangan (KP) di kawasan ini dikelola oleh Perusahaan Daerah Baratala.  Perusahaan milik pemerintah Kabupaten Tanah Laut ini menggandeng pihak ketiga melalui pemberian SPK (surat perintah kerja) kepada PT KY, perusahaan milik asing. Agar aktivitasnya mulus, lagi-lagi tentara kita diberdayagunakan selain sebagai pengaman sekaligus mengeruk keuntungan. (***)

(Kusarikan dari Perjalanan Liputan Program Reportase Trans-TV)