Kamis, 22 Desember 2011

Penerbang yang Mati Muda

Letnan Udara Sjamsudin Noor, Perjuangannya dan Nama Bandara

Muhammad Sjamsudin Noor nama lengkapnya
Dia dijuluki pelopor Airways Indonesia
Anak  Desa  yang Lahir di    Alabio, Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel
Gugur  di usia muda sebagai pejuang TNI Angkatan Udara


TIDAK banyak anak muda yang memilih menjadi penerbang pesawat tempur sebagai profesi di jaman masih sekarat tahun 1940-an. Dari yang sedikit, nama Muhammad Sjamsudin Noor terpatri dengan indah.  Lahir di Alabio, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel tanggal 5 November 1924, Muhammad Sjamsudin Noor besar di lingkungan keluarga yang taat beragama.

Ayahnya H.Abdul Gaffar Noor dikenal sebagai salah satu ulama di Alabio pada tahuan 1900-an. Ibunya Hj. Putri Ratna Willis, juga aktif dikegiatan keagamaan. Ketokohan keduanya, mengantarkan mereka sebagai sosok yang aktif di pergerakan dan organisasi perjuangan.  Tahun 1940-an di masa transisi terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), H. Abdul Gaffar Noor, dipercaya sebagai Kepala Federasi Kalimantan Tenggara.
 
“Ayah beliau (Sjamsudin Noor) tokoh ulama di Kalsel yang juga pernah menjabat Kepala Federasi Kalimantan,” jelas Letkol Pnb, M. Mukson, Danlanud Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Jabatan publik yang di emban sang ayah, membuat Sjamsudin Noor menghabiskan waktu jauh dari kampung halamannya yang dikenal sebagai sentra perternakan itik terbesar. Di usia 8 tahun, jenjang pendidikan dimulai di HIS Batavia Jakarta. Setelah lulus tahun 1939, melanjutkan sekolah di MULO Bogor, Jawa Barat.

Usai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sejak  tahun 1942 hingga 1945,  Sjamsudin Noor melanjutkan pendidikannya di AMS Jogjakarta. Kondisi Negara yang masih dalam tekanan penjajah, membuatnya terpanggil dengan masuk  Akademi Militer di Jogjakarta. Setahun di Akademi Militer, dia memperdalam ilmunya dengan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang.

Prestasi yang bagus, mengantarkan Sjamsudin Noor terpilih mengikuti program Pendidikan dan Latihan Penerbang di India dan Burma. Dari sinilah ilmu profesional sebagai penerbang pesawat tempur dan pesawat angkut dicapai. Tiga tahun menimba ilmu, Sjamsudin Noor langsung dipercaya menjadi pilot  pesawat penerbangan Indonesia Airways.

Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Tahun 1950, sepulang dari Burma, Sjamsudin Noor yang berpangkat Letnan Udara Satu, dipercaya menerbangkan pesawat tempur Dakota 446 milik TNI Angkatan Udara.  Sejak itu, secara resmi Sjamsudin Noor dipercaya memiloti pesawat tempur untuk membela negara.

Minggu, tanggal 26 November 1950, sekitar pukul 17.00 WITA. Sjamsudin Noor menjalankan tugas negara  menerbangkan pesawat Dakota dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Angkatan Udara Indonesia berduka. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun anak banua ini, dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways. Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa.

Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970 melalui peran DPRD Kalsel, Pemerintah Daerah dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. “Atas peran dan jasa-jasanya terhadap negara, makanya bandara ini dinamakan Lanud Syamsudin Noor,” tegas Letkol Pnb M.Mukson, Danlanud Syamsudin N0or Banjarmasin.

Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsudin Noor menggantikan Lanud Ulin pemberian nama dari Belanda dan Jepang. ***

(Disarikan dari Liputan Program Dokumenter Duta TV Banjarmasin ; Pian Tahulah)

Rabu, 24 Agustus 2011

Rasa Biasa Grand Zam-Zam


GRAND zam-zam hotel dengan pesona jam raksasa di atasnya, memang menambah kedahsyatan daya tarik Kota Makkah Al-Mukarromah. Bernilai tambah karena hotel ini tepat berada di depan pelataran Masjidil Haram.

Turun ke loby lantai dasar, langsung menghadap dan menghubungkan ke pintu utama King Abdul Azis menuju Masjidil Haram. Hunian mewah ini berdampingan dengan Hilton Tower Makkah.

Tidak hanya menjual ketinggian, Grand Zam-Zam Hotel juga didukung kamar  berkapasitas 1.300 unit.  Saking luasnya lobby room hotel bintang lima  ini, justru ada di lantai 5 dan harus dinaiki dengan 12 lift besar berkapasitas 15 hingga 25 orang.

Suite-suite yang berada di ketinggian dengan view tanah haram dan kedahsyatan Ka’bah sebagai lanskape, menjadi magnet bagi jamaah haji dan umroh.  

Dari lantai dasar hingga lantai 3, deretan plaza dengan branded internasional tersebar.  Counter LV, CK, DKNY, DG, Versace, Aigner hingga  produk olahan kurma, aneka wewangian aroma Arab, telepon genggam dan kamera juga ada.

Untuk menikmati fasilitas akomodasi kelas bintang lima, jamaah harus merogoh kocek terdalam. Sebab biro perjalanan haji dan umrah memasang tarif bervariasi dari Rp 60 juta hingga Rp 75 juta per orang pada tahun 2010.

Selain kemewahan tadi, untuk luas ruangan dan interiornya justru terasa biasa. Suite room di lantai 18 misalnya, justru hanya berukuran 4 x 6 meter yang tidak jauh beda dengan hotel kebanyakan di tanah air. Partisi, panel, properti, interior hingga eskterior room juga banyak terlihat di hotel-hotel di Indonesia.

Yang istimewa,  seluruh kamar di Grand Zam-Zam ini, 24 jam merelay langsung aktivitas ibadah dari Masjidil Haram. Speaker-speaker kecil audio ruang kamar dengan syahdu memperdengarkan suara azan, pengajian ayat suci al-qur’an hingga tausyiah. Kita tinggal mengatur volume speaker, mau kencang atau hening.

Kemewahan seperti ini, menjadi godaan terpenting bagi jamaah haji dan umroh. Apakah mau ibadah atau terlena dengan aroma mewah. Apakah  tawaf di ka’bah atau justru mengitari plaza-plaza megah. (*)



Selasa, 23 Agustus 2011

Haji Jalan Kaki (Masian/Roqiban)


Jamaah Haji Menuju Mina dan Lokasi Pelontaran
Diriwayatkan hadist dari Abu Hurairah (R.A) bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagi orang yg mengerjakan haji masian (berjalan kaki) pahalanya adalah 70 kali haji (yakni, mengerjakan haji) dan bagi orang yg mengerjakan haji dengan berkenderaan mendapat satu pahala haji.”

(Hadist Riwayat Ad-Dilami dalam Kitab Kanzul Umal)

MENGHADIRI tausiyah di penginapan haji di Aziziyah, pinggiran Kota Mekkah, ternyata membawa berkah. Isi tausiyah yang disampaikan Mutowwib (guider haji), membuat hati saya terhipnotis, sehari sebelum ibadah haji dimulakan. “Setiap langkah akan diganjar 70.000.000 kebaikan, bagi jamaah yang berjalan kaki,” papar Mutowwib.
        Besoknya usai shalat 2 rakaat, tekad mengikuti haji masian atau berjalan kaki, langsung dicanangkan. Sebenarnya rombongan saya berjumlah 45 orang jamaah haji angkatan pertama via Travellindo, pada November 2010. Tapi dari Banjarmasin, alhamdulillah cuma saya dan istri, yang mantap niat dan tekad untuk berjalan kaki.
        Setelah bergabung dengan jamaah setanah air, akhirnya ada 23 jamaah yang juga mengambil Masian pada 8 Dzulhijah. Perjalanan pun dimulai dari Makkah  dengan tujuan pertama wukuf di Arafah. Jarak yang saya tempuh sekitar 23,6 Km. Berangkat sekitar pukul 15.00 sore, perjalanan pun dituntaskan pada pukul 02.00 dinihari. Artinya dibutuhkan waktu sekitar 12 jam  perjalanan.
        Di sepanjang jalan beraspal dua arah selebar 12 meter, terasa kosong dan sepi. Hanya beberapa kelompok kecil yang sempat kami temui, yang kebanyakan warga tanah Haram sendiri. Pegunungan tandus dengan bebatuan kasar menjadi pemandangan seraya membayangkan, betapa perjuangan Rasulullah begitu hebatnya.
Tapi jangan khawatir, di sepanjang kiri dan kanan jalan, deretan kran-kran air zam-zam siap menemani saat kehausan. Setiap radius 1 kilometer, selter dan kamar mandi siap melayani saat kebelet di perjalanan. Beberapa masjid ternama menyambut semangat kami sebagai masian.
Setelah memasuki padang Arafah, kerumunan jamaah mulai terlihat ramai. Usai melaksakan ibadah wukuf, perjalanan pun kami lanjutkan dari Arafah menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam).
Jarak yang kami tempuh sekitar 12 KM.  Pakaian ihram yang kami kenakan mulai basah oleh keringat. Di sepanjang jalan, penjual tikar dan tenda tersebar di kanan-kiri jalur yang kami lewati. Setelah membeli 5 unit tenda berukuran besar, tepat di pinggiran jalan kami mendirikan tenda berbaur dengan ribuan jemaah lainnya.
Rasa capai dan penat, membuat tidur kami terasa pulas. Usai shalat subuh perjalanan pun kami lanjutkan lagi. Kali ini Mina sebagai tujuan dengan jarak tempuh sekitar 6 Kilometer. Jalanan tidak lagi lengang, tapi padat merayap dengan jutaan jamaah.
Usai melaksanakan ibadah, menjelang petang kami meninggalkan Mina menuju Kota Mekkah. Jarak yang ditempuh sekitar 8 kilometer hingga mencapai Masjidil Haram untuk Tawaf Ifadah. Total perjalanan pulang pergi dari Makkah, Arafah, Musdalifah, Mina dan kembali ke Mekkah sekitar 54 kilometer.
Pulang ke tanah air, barulah kami tersadar; ternyata perjalanan yang kami tempuh tidak beda dengan jarak tempuh antar Kota Banjarmasin menuju Kota Martapura. Sebuah cara berjalan kaki yang rasanya sulit bisa kami lakukan jika berada di Banua.
Benar pula ‘papadah’ urang tuha; berhajilah selagi muda karena akan melapangkan semuanya. Satu pinta; semoga Allah SWT, tetap melapangkan perjalanan hidup kami. Amin…(*)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Surgi Mufti Penakluk Belanda


Mengenal Syekh Jamaluddin Al-Banjari, Ulama Haramain dari Tanah Banjar

Surgi Mufti (Kanan), Mengenakan Lencana dari Belanda. Foto tahun 1903
BERPERANG tanpa konfrontasi. Berjuang tanpa senjata. Dihormati petinggi Belanda, tetapi tidak pernah mengkhianati bangsa. Begitulah sosok Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau Tuan Guru Surgi Mufti. Dilahirkan di Desa Dalam Pagar, Astambul, Martapura pada tahun 1817, putra pasangan Haji Abdul Hamid Kosasih dan Hj. Zaleha ini, tumbuh di lingkungan agama yang kuat.
          Dia adalah buyut Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari alias Datuk Kalampayan. Sejak remaja, dia sudah menimba ilmu di tanah suci Makkah Al-Mukarromah. “Dia termasuk jaringan ulama Haramain (tanah haram). Baru sekitar tahun 1894, beliau kembali ke Banjarmasin di masa-masa konfrontasi dengan Belanda yang menjajah kita,” ujar Yusliani Noor, sejarawan Banua.
          Sekembalinya ke tanah Banjar, Surgi Mufti dihadapkan dengan dua pilihan. Apakah ikut konfrontasi menghadap penjajah dan bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari, atau memilih berdakwah meski harus ‘berkawan’ dengan Belanda. Pada tahun 1899, H.Jamaluddin akhirnya memutuskan menjalankan dakwahnya setelah Belanda mengangkatnya sebagai mufti.
          “Jabatan mufti adalah jabatan penting pada masa itu, setarap dengan menteri atau hakim. Putusannya adalah menjalankan syariah hukum Islam bagi warga Banjar,” jelas Yusliani Noor, Dosen Unlam Banjarmasin.
          Tidak hanya itu, Mufti Jamaluddin juga terkenal sebagai ahli falaqiyah (astronomi). “Dialah yang memutuskan awal dan akhir Ramadan, berdasarkan perhitungan hilal yang dia kuasai. Bahkan urusan bertani di masa itu, kapan waktunya bercocok tanam yang baik, juga menjadi bidang yang dikuasainya,” tegas sejarawan yang mengangkat Tesis Tentang Islam di Tanah Banjar ini.
           Sebagai ulama dan pendakwah, kekuatan ilmunya sudah mencapai titik tertinggi dengan berbagai karomah yang dimiliki. Dalam sebuah ceramah di hadapan murid-muridnya, Surgi Mufti mengatakan bahwa di setiap ada air pasti ada ikannya. Ternyata pernyataan ini terdengar petinggi Belanda dan memanggilnya untuk melakukan tes kebenaran ucapannya.
          “Jika ada air ada ikan, maka apakah mungkin di dalam air kelapa juga ada ikannya,” tantang petinggi Belanda, meragukan ucapan H.Jamaluddin. Akhirnya sebiji kelapa muda dibawa kehadapan Surgi Mufti. Kelapa muda ini pun di belah, seketika airnya muncrat dan saat bersamaan seekor ikan sepat menggelepar keluar dari buah kelapa tadi.
          Sejak kejadian itu, petinggi Belanda semakin menaruh hormat kepada Syekh Jamaluddin. Sebab tidak hanya ahli ibadah dan kuat dalam agama, tetapi juga piawai dalam perkara dunia. Sebagai bentuk penghargaannya, pihak Belanda saat itu menjuluki H. Jamaluddin Al-Banjari sebagai Surgi Mufti.
          “Istilah surgi itu berarti suci, mufti artinya pemimpin. Julukan ini diberikan oleh Belanda karena sikap istiqomahnya beliau yang memiliki kesucian hati dan tekun beribadah,” jelas Yusliani Noor.
Meski hidup dan tumbuh di lingkungan Pemerintah Belanda, namun kelebihan Surgi Mufti tetap bergaya ulama. Keteguhannya beribadah menjadi bukti, betapa kekuatan ilmu agama lebih mulia daripada urusan dunia.
Tak salah pula jika kepemimpinannya disukai Belanda, tetapi dakwahnya dinantikan murid-muridnya. “Dia itu terkenal mengadakan pengajian duduk. Artinya dia tidak berdakwah dari rumah ke rumah. Tetapi justru warga yang berdatangan ke rumahnya. Tidak hanya jamaah dari Kalsel, tapi juga dari Kalteng, Kaltim dan Kalbar,” kata Yuli Hidayat, penjaga Kubah Surgi Mufti.
Versi Yuli Hidayat, karomah Surgi Mufti yang lain adalah saat beliau melakukan perjalanan dari Sungai Jingah menuju Desa Dalam Pagar. Di perjalanan itu salah satu warga melapor perhiasan emas mereka terjatuh dan hilang di sungai. Dengan merentangkan salah satu tangannya ke sungai, perhiasan yang tenggelam itu tiba-tiba ada di tangannya.
“Bahkan dalam perjalanan menggunakan jukung itu, Surgi Mufti memakai jukung bocor. Berhari-hari di jalan, jukungnya baru tenggelam setelah sampai di Martapura,” papar Yuli Hidayat.
Di bidang sosial kemasyarakatan, Surgi Mufti juga berandil dalam membuka jalur jalan dari Desa Dalam Pagar menuju Desa Kelampayan. “Bahkan dialah yang membuat atang (cungkup) makam datuknya,  Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,” Yuli menambahkan.
Surgi Mufti
Tepat tanggal 8 Muharram 1348 Hijriyah, Surgi Mufti meninggal dunia pada hari Sabtu, pukul 15.00 WITA menjelang Sholat Ashar di Sungai Jingah. Surgi Mufti dimakamkan di kubah yang dibangunnya,  jauh sebelum meninggal dunia. Kubah ini dulunya dijadikannya sebagai tempat menerima murid-muridnya.
Kubah ini dipelihara dan dijaga oleh menantunya, Hj. Khadijah istri dari HM.Arsyad Jamaluddin. Dengan usia yang sudah mencapai 95 tahun, Nenek Khadijah masih mampu mengaji dan membaca hurup Arab gundul sambil menerima tamu yang datang untuk berziarah ke makam.
“Bahari turunan Abah (sebutan Surgi Mufti), rata-rata hapal dan khatam Qur’an. Makanya murid sidin banyak banar. Tapi yang paling utama diperhatikan sidin adalah sembahyang. Memang sidin jua mengajarkan ilmu tarikat, namanya Tarikat Sajaliyah, tapi kada dikembangkan,” ujar Khadijah. ***

(Disarikan dari Liputan Magazine News Dokumenter Duta TV Banjarmasin)

Jumat, 19 Agustus 2011

Anggrek Hitam Loksado


PESONA Loksado, sebuah kawasan hijau yang dihuni ratusan jiwa suku Dayak di perbukitan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan,  selalu saja menghipnotis yang datang. Di pinggiran Sungai Amandit, warga Dayak bermukim sambil berladang dan menanam kayu manis. Sungainya berair deras dan jernih, jeram yang menantang memanjakan pegiat bambu rafting yang datang.
Pesona lainnya adalah populasi sebaran beragam jenis anggrek. Salah satu yang terkenal adalah anggrek hitam. Disebut anggrek hitam karena baluran warna hitam menjulur dan mengitari sisi-sisi pinggir sulur-sulurnya. Warna pelambang kekuatan ini semakin dominan muncul di tengah kuncup bunga yang berwarna hijau pekat.
Daunnya yang panjang ditopang bongkol dan akar serabut yang kuat mencengkram pepohonan atau pot tanah.  Anggrek hitam ini tumbuh subur dengan tunas-tunas aktif bermunculan. Proses berbunganya hanya 8 – 10 hari, setelah itu pesona mistiknya melayu.
Anggrek hitam atau Coelogyne Pandurata adalah jenis anggrek alam dari hutan Kalimantan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999,  tumbuhan ini dilindungi. Selain di habitatnya perbukitan meratus dengan hutan hujan tropis, anggrek hitam juga dijual bebas.
Pemasoknya, sekelompok warga  yang mengambil bibitnya dari kawasan hutan lindung Meratus yang membelah empat kabupaten di Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin sendiri, hampir setiap akhir pekan anggrek dan tumbuhan hutan lainnya dijual bebas di pinggiran Jalan Ahmad Yani, Kilometer 7, Kertak Hanyar.
Tak kurang empat hingga enam mobil pikap yang menggantung dan memajang tumbuhan ini. Bahkan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pedagang menjualnya secara khusus di Pasar Kambang (pasar tradisional bunga) yang buka hingga malam hari.
Harganya pun relatif murah antara 15 hingga 20 ribu rupiah per pohon. Selain jenis anggrek hitam, jenis tebu atau anggrek macan, anggrek bulan, anggrek sahang hingga anggrek pandan juga ada. Kantong semar bercorak merah dan hijau kepekatan, juga dijual disini bersama tanaman sarang semut yang dipercaya  Suku Dayak sebagai obat penangkal kanker.
Meski dijual secara terbuka, namun tak ada tindakan nyata dari petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Dinas Kehutanan Kalsel. Para pencari anggrek ini, beberapa di antaranya berasal dari Suku Dayak. Mereka bersepakat anggrek yang tumbuh menempel di pohon besar tidak diambil semua, tetapi diliarkan agar tumbuh kembali, sebagai nilai kearifan agar anggrek tetap lestari.  (***)