Selasa, 23 Agustus 2011

Haji Jalan Kaki (Masian/Roqiban)


Jamaah Haji Menuju Mina dan Lokasi Pelontaran
Diriwayatkan hadist dari Abu Hurairah (R.A) bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagi orang yg mengerjakan haji masian (berjalan kaki) pahalanya adalah 70 kali haji (yakni, mengerjakan haji) dan bagi orang yg mengerjakan haji dengan berkenderaan mendapat satu pahala haji.”

(Hadist Riwayat Ad-Dilami dalam Kitab Kanzul Umal)

MENGHADIRI tausiyah di penginapan haji di Aziziyah, pinggiran Kota Mekkah, ternyata membawa berkah. Isi tausiyah yang disampaikan Mutowwib (guider haji), membuat hati saya terhipnotis, sehari sebelum ibadah haji dimulakan. “Setiap langkah akan diganjar 70.000.000 kebaikan, bagi jamaah yang berjalan kaki,” papar Mutowwib.
        Besoknya usai shalat 2 rakaat, tekad mengikuti haji masian atau berjalan kaki, langsung dicanangkan. Sebenarnya rombongan saya berjumlah 45 orang jamaah haji angkatan pertama via Travellindo, pada November 2010. Tapi dari Banjarmasin, alhamdulillah cuma saya dan istri, yang mantap niat dan tekad untuk berjalan kaki.
        Setelah bergabung dengan jamaah setanah air, akhirnya ada 23 jamaah yang juga mengambil Masian pada 8 Dzulhijah. Perjalanan pun dimulai dari Makkah  dengan tujuan pertama wukuf di Arafah. Jarak yang saya tempuh sekitar 23,6 Km. Berangkat sekitar pukul 15.00 sore, perjalanan pun dituntaskan pada pukul 02.00 dinihari. Artinya dibutuhkan waktu sekitar 12 jam  perjalanan.
        Di sepanjang jalan beraspal dua arah selebar 12 meter, terasa kosong dan sepi. Hanya beberapa kelompok kecil yang sempat kami temui, yang kebanyakan warga tanah Haram sendiri. Pegunungan tandus dengan bebatuan kasar menjadi pemandangan seraya membayangkan, betapa perjuangan Rasulullah begitu hebatnya.
Tapi jangan khawatir, di sepanjang kiri dan kanan jalan, deretan kran-kran air zam-zam siap menemani saat kehausan. Setiap radius 1 kilometer, selter dan kamar mandi siap melayani saat kebelet di perjalanan. Beberapa masjid ternama menyambut semangat kami sebagai masian.
Setelah memasuki padang Arafah, kerumunan jamaah mulai terlihat ramai. Usai melaksakan ibadah wukuf, perjalanan pun kami lanjutkan dari Arafah menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam).
Jarak yang kami tempuh sekitar 12 KM.  Pakaian ihram yang kami kenakan mulai basah oleh keringat. Di sepanjang jalan, penjual tikar dan tenda tersebar di kanan-kiri jalur yang kami lewati. Setelah membeli 5 unit tenda berukuran besar, tepat di pinggiran jalan kami mendirikan tenda berbaur dengan ribuan jemaah lainnya.
Rasa capai dan penat, membuat tidur kami terasa pulas. Usai shalat subuh perjalanan pun kami lanjutkan lagi. Kali ini Mina sebagai tujuan dengan jarak tempuh sekitar 6 Kilometer. Jalanan tidak lagi lengang, tapi padat merayap dengan jutaan jamaah.
Usai melaksanakan ibadah, menjelang petang kami meninggalkan Mina menuju Kota Mekkah. Jarak yang ditempuh sekitar 8 kilometer hingga mencapai Masjidil Haram untuk Tawaf Ifadah. Total perjalanan pulang pergi dari Makkah, Arafah, Musdalifah, Mina dan kembali ke Mekkah sekitar 54 kilometer.
Pulang ke tanah air, barulah kami tersadar; ternyata perjalanan yang kami tempuh tidak beda dengan jarak tempuh antar Kota Banjarmasin menuju Kota Martapura. Sebuah cara berjalan kaki yang rasanya sulit bisa kami lakukan jika berada di Banua.
Benar pula ‘papadah’ urang tuha; berhajilah selagi muda karena akan melapangkan semuanya. Satu pinta; semoga Allah SWT, tetap melapangkan perjalanan hidup kami. Amin…(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar